Sebagai insan intelektual yang progresif, mahasiswa UII senantiasa didorong untuk tidak hanya mengembangkan kemampuan di bidang hardskill yang diwujudkan dalam capaian nilai akademik. Lebih dari itu, mereka juga terus didorong untuk memperhatikan pengembangan softskill sebagai kompetensi penting yang wajib dimiliki. Softskill sendiri merupakan istilah yang menggambarkan kemampuan-kemampuan penunjang yang dipelajari mahasiswa di luar bangku perkuliahan, seperti kemampuan leadership, mengelola sumberdaya manusia, dan kepercayaan diri ketika bergaul dengan komunitas akademik asing. Dengan memiliki softskill yang lengkap, mahasiswa akan menjadi insan berdaya saing tinggi yang juga dapat memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bagi para mahasiswa UII, softskill ini salah satunya dapat diasah dengan jalan aktif mengikuti konferensi akademik baik di tingkat nasional maupun regional.

Sebagaimana ditunjukkan oleh tiga orang mahasiswa UII yang belum lama ini berpartisipasi dalam konferensi akademik yang digelar di kota Kuala Lumpur, Malaysia pada 11-12 Februari 2015. Ketiga mahasiswa tersebut, yakni Ibrahim Malik (Arsitektur UII), Vita Fatimah Silondae (Teknik Informatika UII), dan Askoning (Statistik UII) memaparkan makalah di hadapan para akademisi dari berbagai universitas yang hadir dalam konferensi tersebut. Keikutsertaan mahasiswa dalam konferensi akademik merupakan hal yang positif karena selain memperkaya pengalaman juga memupuk rasa percaya diri mahasiswa ketika bergaul dengan para akademisi asing.

Disampaikan oleh Ibrahim Malik, salah seorang mahasiswa UII yang hadir dalam konferensi bahwa mereka mengusung tema makalah tentang “Hubungan Pemikiran Islam Kontemporer terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan”. “Kami mencoba menggali perspektif pemikiran Islam yang berperan penting mendorong kemajuan ilmu pengetahuan di dunia, baik dari sudut pandang Islam klasik maupun kontemporer”, ungkapnya. Selain itu, ia juga mendiskusikan tentang titik temu di antara pemikiran Islam dan Barat, di mana Barat cenderung mengambil perspektif dikotomis yang memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan.

“Alhamdulillah tanggapan para peserta lain sangat positif terhadap presentasi kami, semoga ini bisa menjadi kontribusi pemikiran kecil bagi pengembangan ilmu pengetahuan”, tambahnya. Pengalaman menarik yang berkesan adalah ketika timnya harus belajar untuk menyampaikan presentasi dengan Bahasa Inggris di hadapan para peserta lain yang notabene lebih senior. Hal ini tentunya membutuhkan persiapan yang matang serta kepercayaan diri dan pembawaan yang matang dari para mahasiswa UII.