Ilmu Kebumian merupakan salah satu mata kuliah wajib yang harus diambil oleh seluruh mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII). Mata Kuliah ini memiliki bobot 2 sks dan dilaksanakan pada semester 3. Pada periode semester ganjil tahun 2016 ini, sebanyak 167 mahasiswa mata kuliah Ilmu Kebumian mengikuti kegiatan Kuliah Pakar dan Kuliah Lapangan yang dilaksanakan pada akhir semester sebelum ujian akhir semester (UAS) dilaksanakan. Kuliah Pakar dan Kuliah Lapangan bertujuan untuk menambah pemahaman mahasiswa Teknik Lingkungan FTSP UII di bidang Kebumian. Pemahaman tentang ilmu kebumian diharapkan tidak hanya dari segi teori, namun juga aplikasi nyata di lapangan melalui studi kasus yang relevan dengan bidang teknik lingkungan seperti halnya industri pertambangan, keterkaitan jenis dan karakteristik batuan dengan keberadaan air tanah, serta berbagai konsekuensi pemanfaatan sumber daya alam di bumi. Dalam kesempatan tersebut, Prodi Teknik Lingkungan mengundang Dr.rer.nat. Arifudin Idrus, S.T., M.T., sebagai narasumber (pakar). Beliau adalah dosen Teknik Geologi UGM sekaligus Ketua Program Studi S1 Teknik Geologi UGM. Dr. Arif merupakan dosen Teknik Geologi yang memiliki fokus pada bidang Geologi Ekonomi, khususnya pada kegiatan tambang dan ekplorasi mineral.

Kuliah Pakar (hari pertama)

Kuliah pakar di dalam ruangan diadakan pada hari Jumat tanggal 16 Desember 2016. Pada keesokan harinya, tanggal 17 Desember 2016, sebanyak 167 mahasiswa beserta 6 anggota tim Dr. Arif, termasuk dosen mata kuliah Ilmu Kebumian, Dhandhun Wacano, M.Sc. berangkat menuju Bayat, Klaten, Jawa Tengah, untuk melaksanakan kegiatan kuliah lapangan. Kuliah lapangan difokuskan pada area pengamatan di sekitar perbukitan Jiwo Barat. Kondisi geologi secara umum dijelaskan terlebih dahulu oleh Dr. Arif sebelum kemudian para mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil di setiap titik pengamatan. Pengamatan dilakukan pada tiga titik utama.

Pengamatan pada titik pertama membahas tentang jenis-jenis batuan metamorfik dan mineral penyusun, serta mengkaitkan antara kondisi batuan dengan pengelolaan air tanah yang ada dilokasi pengamatan. Pada titik kedua, pengamatan yang dilakukan mengenai batuan sedimen dengan kenampakan “batu perahu” yang merupakan jenis batuan sedimen gamping dengan bukti keberadaan fosil numulit. Pada pengamatan kedua dibahas juga keterkaitan antara pengelolaan masalah kekeringan di daerah yang kesulitan air dengan jenis batuan gamping, seperti di daerah Gunung Kidul. Titik ketiga merupakan titik terjauh karena harus berjalan kaki menaiki lereng perbukitan. Titik ketiga berada pada Puncak Gunung Pendul. Dari titik tersebut kita dapat melihat bagian selatan komplek perbukitan Bayat dengan lebih menyeluruh ke segala arah. Pada titik ketiga ini, mahasiswa mendapatkan penjelasan tentang jenis batuan Perbukitan Pendul yang didominasi oleh batuan beku. Selain itu, mahasiswa juga mendapat tugas untuk membuat gambar sketsa tentang kondisi morfologi wilayah di sekitar Perbukitan Pendul. Kuliah lapangan berakhir pada sore hari. Selepas kegiatan di lapangan ini, mahasiswa ditugaskan untuk membuat laporan. Laporan ini menjadi salah satu bahan evaluasi pemahaman mahasiswa terhadap keterkaitan mata kuliah ilmu kebumian dengan Teknik Lingkungan.

Kuliah Lapangan (hari kedua)