Posts

Awal Februari ini, 3 mahasiswa dari UII: Muhammad Ilham Abdul Majid, Saraswati Yola Nur Aisyah dan Hafidh Rahmatiyas berhasil menyabet juara 2 pada kompetisi karya tulis dalam event Engineering Physics Week (EPW) di Teknik Fisika ITS Surabaya dengan konsep Smart Water untuk menunjang keberlanjutan akses air minum di Indonesia.

EPW, Event Besar Teknik Fisika ITS
Engineering Physics Week (EPW) adalah event terbesar Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Event ini diadakan sebagai wadah untuk menggali potensi diri generasi muda Indonesia dengan mengedepankan semangat dalam dunia teknologi dan sains untuk pembangunan dunia industri. Di dalam event EPW 2018 terdapat 3 sub event: Engineering Physics Challenge (EPC), SNAPSHOT dan Smart Innovation of Writing (SNOW). EPC merupakan ajang olimpiade fisika tingkat nasional, SNAPSHOT merupakan ajang lomba fotografi yang ditujukan untuk masyarakat umum, sementara itu SNOW merupakan lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional yang ditujukan untuk siswa SMA/sederajat dan mahasiswa. SNOW tahun 2018 ini mengangkat tema “Utillize Your Knowledge For Our Better Nation” yang mengajak generasi muda untuk menyalurkan ide kreatif dan solutif dengan memanfaatkan teknologi ramah lingkungan (green technology) untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2030. Untuk kategori mahasiswa, tema Meningkatkan Rasio Elektrifikasi di Daerah Berkembang dengan Smart and Green Technology sebagai Upaya Realisasi SDGs 2030 dibagi lagi menjadi 4 sub tema: 1) Pengolahan Energi Terbarukan, 2) Pemanfaatan Energi Terbarukan, 3) Produksi Energi Terbarukan, dan 4) Implementasi Smart Energy Berbasis Internet of Things.

Tim UII Ikuti SNOW
Tim Universitas Islam Indonesia (UII) yang terdiri dari Muhammad Ilham Abdul Majid (Psikologi 2016, NIM 16320162), Saraswati Yola Nur Aisyah (Teknik Lingkungan 2016, NIM 16513003) dan Hafidh Rahmatiyas (Teknik Lingkungan 2016, NIM 16513114) mengikuti event SNOW dengan judul:

Let’s Drink with Smart Water (RESEP: Rekayasa Konsep E-Ecster Portable sebagai Penunjang SDGs di Tahun 2030″

Kompetisi SNOW diselenggarakan melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah seleksi abstrak, yang mana para peserta diharuskan mengirim abstrak karya tulisnya melalui e-mail. Diketahui bahwa ada 300 abstrak yang diumumkan lolos seleksi tahap pertama. Selanjutnya peserta diharuskan untuk mengirim full paper karya tulisnya sebagai seleksi tahap kedua. Pada tahap kedua hanya 10 tim yang lolos dan diharuskan mengikuti serangkaian acara pada tahap final di Teknik Fisika ITS pada tanggal 2-4 Februari 2018. Tim UII, tim ITS dan beberapa tim dari PTN maupun PTS lainnya berhasil lolos ke babak grand final.

Tim UII Tembus Grand Final
Pada tahap final para finalis menghadapi pertandingan yang sesungguhnya. Peserta diminta melakukan presentasi menggunakan video dalam waktu lima menit disertai lima menit sesi tanya jawab. Tidak hanya itu, peserta juga diminta untuk mempresentasikan karya tulis ilmiahnya selama sepuluh menit disertai sepuluh menit sesi tanya jawab. Dalam kompetisi ini para finalis berusaha meyakinkan para dewan juri dengan mempresentasikan hasil karya tulis yang telah dibuat beserta videonya. Para dewan juri yang dihadirkan merupakan dosen-dosen yang sangat berkompeten di bidangnya. Kemampuan analisis dan pemecahan masalah dari para finalis benar-benar diuji dalam tahap ini oleh para dewan juri tersebut.

Delegasi UII berhasil mendapatkan juara kedua kategori mahasiswa dengan konsep rekayasa E-Ecster Portable berbasis pada IoT yang telah disebut di atas judulnya. Konsep “Smart Water” merupakan suatu konsep rekayasa botol pemfilter dan pendeteksi air yang terintegrasi dengan gawai dengan tujuan utama mengentaskan permasalahan air bersih dan penyediaan air minum di Indonesia. Pembimbing tim UII, Eko Siswoyo, Ph.D yang merupakan dosen Program Studi Teknik Lingkungan menyampaikan bahwa karya mahasiswa UII ini diharapkan akan mampu menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi krisis air bersih dan air minum di Indonesia.

Mahasiswa Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (UII) angkatan 2014, Alfin Fadhilah, berhasil lolos sebagai finalis 10 besar lomba tantangan menulis artikel yang berkaitan dengan konservasi energi dan energi terbarukan. Lomba ini diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Tulisan Alfin dapat dilihat pada tautan berikut. Berikut pengalaman yang dibagikan oleh Alfin:

Bermula dari Twitter ESDM
Pertama kali saya mengetahui informasi tentang kompetisi blog #15Hariceritaenergi yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) adalah dari tautan seseorang di Twitter sekitar awal Agustus 2017. Setelah mengetahui informasi tersebut, saya merasa persyaratan-persyaratan dari pihak panitia dapat saya penuhi. Tak lama kemudian saya mencoba mendaftar dan memantapkan diri untuk berkonsisten menulis sejak tanggal 17 Agustus 2017 hingga 31 Agustus 2017.

Kompetisi yang mengambil tema Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE)  ini dilaksanakan untuk mendorong pemanfaatan energi bagi para generasi muda (18-30 tahun). Setiap peserta diminta menulis selama 15 Hari tentang topik EBTKE sesuai sudut pandang mereka di kanal blog pribadi. Tulisan yang dimuat terdiri dari minimal 800 kata dan diharuskan untuk disebar ke setiap sosial media dari peserta yang mengikuti kompetisi. Ada sekitar 128 peserta yang mengikuti kompetisi ini dan menghasilkan sepuluh finalis untuk memaparkan gagasan atau mempresentasikan ide mereka pada acara The 6th Indonesia EBTKE Conex 2017 di Balai Kartini DKI Jakarta. Nantinya, selepas presentasi akan dilakukan pengumuman tiga besar untuk berangkat ke kantor pusat The International Energy Agency (IEA) di Paris, Perancis.

Menjadi Salah Satu dari Dua Finalis yang Berstatus Mahasiswa
Pengumuman sepuluh besar finalis telah diumumkan pada 8 September 2017 dan syukur alhamdulillah saya termasuk salah satu di antaranya. Alhasil, pada tanggal 14 September saya diharuskan untuk berangkat ke Balai Kartini guna mempresentasikan ide saya seputar EBTKE. Dalam perjalanan menuju ke Jakarta, saya bersyukur diberikan bantuan dana transportasi oleh pihak Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia.

Saat berada di Balai Kartini, saya agak gentar melihat finalis yang lain dikarenakan hanya dua orang yang terdiri dari kalangan mahasiswa dan selebihnya adalah kalangan profesional, pengusaha, juga peneliti di bidang energi. Bahkan dua dari sepuluh peserta telah memperoleh gelar doktoral. Tetapi saya mencoba untuk bersikap rileks dan apa adanya. Dalam presentasi yang dimulai sekitar pukul sepuluh tersebut, saya mencoba memaparkan tentang bagaimana Indonesia menghadapi permasalahan energi terbarukan di masa yang akan datang. Saya mengusulkan untuk melakukan percepatan program Sustainable Energy One Map (Satu Peta Energi Berkelanjutan) yang berguna untuk mengurangi konflik lahan, terutama pada pengerjaan proyek panas bumi yang sering kita dengar belakangan ini. Selain itu, saya juga memaparkan penerapan konsep VUCA (Volatility, Uncertainity, Complexity and Ambiguity) pada pengembangan energi terbarukan, mengingat konsep tersebut saat ini sedang banyak digunakan dalam analisis pasar global. Jerman menggunakan metode analisis ini untuk membuat kerangka kerja yg diterapkan dalam kebijakan mengenai perubahan iklim. Terakhir, saya mencoba mempopulerkan istilah crowdempowering dalam setiap pembangunan proyek energi bersih yang mana dalam hal ini mengajak masyarakat sekitar untuk aktif berkontribusi terhadap setiap proyek yang dijalankan pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM.

Selepas presentasi dari kesepuluh peserta, diumumkan tiga peserta yang lolos untuk mengunjungi kantor pusat IEA di Paris. Tapi sayangnya, saya tidak termasuk ke dalam tiga peserta yang lolos tersebut. Meski begitu, saya cukup senang telah berhasil masuk sepuluh besar dan menambah wawasan bagi diri saya tentang EBTKE di Indonesia.

Setelah rangkaian acara tersebut selesai, menjelang sore saya beranjak menuju Expo EBTKE yang gedungnya masih bersebelahan dan melihat beberapa teknologi di bidang energi terbarukan yang telah mulai marak dipasarkan. Hampir dari keseluruhan expo, produk-produk dari solar panel mendominasi rangkaian expo tersebut. Puas melihat produk-produk dalam expo tersebut, saya akhirnya beranjak menuju stasiun kereta api untuk kembali ke Jogja.

Tiga mahasiswi Prodi Teknik Lingkungan UII: Ika Bayu Kartikasari, Sitti Hariyati dan Fatma Wahyu Sarastuti memenangkan juara 3 dalam kompetisi entrepreneurship UTU Awards yang diselenggarakan oleh Universitas Teuku Umar (UTU) di Meulaboh, Aceh. UTU Awards yang diselenggarakan pada tahun 2016 ini merupakan UTU Awards ke-2 yang pernah diselenggarakan oleh Universitas Teuku Umar. Mengutip dari artikel web Belmawa Ristekdikti mengenai penghargaan UTU Awards, Rektor UTU, Prof. Jasman, menyampaikan bahwa UTU Awards merupakan serangkaian kompetisi yang bertujuan untuk merangsang semangat jiwa berwirausaha sejak dini (entrepreneuship spirit) bagi mahasiswa. Kompetisi entrepreneurship ini terdiri dari 5 jenis kategori kompetisi, yaitu: 1) Perencanan Bisnis; 2) Desain Toko Online; 3) Karya Inovatif Berbasis Agro; 4) Riset Berbasis Entrepreneurship; dan 5) Catur Teuku Umar.

Berawal dari mata kuliah Kewirausahaan, Ika membentuk tim Pelet Magood bersama Sitti dan Fatma. Tim Pelet Magood yang digagas oleh Ika Bayu Kartikasari, Sitti Hariyati, dan Fatma Wahyu Sarastuti kemudian menjadi salah satu kelompok dari program Inkubator Bisnis Mahasiswa (IBISMA) Universitas Islam Indonesia (UII) dalam kategori Business Plan. Pelet magood merupakan rencana bisnis Ika dan kawan-kawan yang mengangkat konsep ramah lingkungan dalam memproduksi pelet ikan. Ika, Sitti dan Fatma memanfaatkan sampah organik menjadi salah satu media tempat berkembang biaknya lalat Black Sodier Fly (BSF). Larva dari lalat tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi salah satu bahan utama pembuatan pelet ikan.

Dengan bantuan program IBISMA UII, ketiga mahasiswi angkatan 2013 ini dapat meloloskan rencana bisnisnya ke dalam 2nd UTU Awards yang mana tim Pelet Magood mampu lolos seleksi dari 216 proposal entrepreneurship yang dikirim dari seluruh universitas di Indonesia. Ika dan kawan-kawan mengaku banyak memperoleh ilmu tentang perencanaan bisnis, public relation, media dan perencanaan keuangan dari program IBISMA UII. Tak ayal, hal ini menjadi faktor penting dalam kesuksesan tim Pelet Magood dalam menyabet juara 3 dalam kategori produk inovatif berbasis Agrobisnis dan Marine. Penyerahan penghargaan dilakukan di kompleks Universitas Teuku Umar di Meulaboh, Aceh pada 12 November 2016 lalu.

“Awalnya tidak memiliki basic tentang bisnis, apalagi tentang perikanan. Tentunya berada di sini (malam anugerah 2nd UTU Awards) sudah menjadi suatu kebanggaan yang luar biasa. Terimakasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung”, komentar Ika Bayu.

Ika, Sitti dan Fatma sangat senang dan bangga dapat mewakili UII dan membawa plakat penghargaan kembali ke kampus tercinta di Yogyakarta. Mereka berharap bahwa tahun depan ada perwakilan dari UII lagi dan bisa meraih juara umum dalam kompetisi tersebut. Selain itu, dengan mengikuti kompetisi semacam ini mereka berpendapat akan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam pengembangan usaha bisnis.

Pengalaman yang banyak telah diperoleh Ika, Sitti dan Fatma. Mereka mulai belajar dari awal, mulai dari perkembangbiakan larva hingga ke komposisi nutrisi dalam pengembangbiakan ikan. Tim Pelet Magood mengharapkan dapat memperbaiki kualitas dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya sehingga mampu memproduksi pakan ikan lebih banyak lagi agar kebutuhan pakan ikan di Indonesia dapat terpenuhi. Saat ini tim Pelet Magood sedang berfokus dalam pengembangan usaha dan memiliki keinginan untuk menjalin kerja sama dengan desa yang memiliki tambak ikan air tawar.

Fajri saat dinobatkan sebagai juara favorit DSEA 2015

Fajri Mulya Iresha (24), dosen muda Program Studi Teknik Lingkungan UII, boleh berbangga. Pasalnya pemuda lulusan Teknik Lingkungan Universitas Indonesia ini memiliki prestasi yang membanggakan. Tidak tanggung-tanggung, di umurnya yang masih sangat muda ini Fajri terpilih sebagai pemenang terfavorit Danamon Social Enterpreneur Awards 2015. Event yang diselenggarakan oleh Bank Danamon sejak tahun 2006 ini bertujuan untuk mengapresiasi para pejuang masyarakat yang ingin mewujudkan upaya-upaya entrepreneur yang bervisi untuk membantu kesejahteraan jutaan orang di luar sana. Danamon Social Entrepreneur Awards (DSEA) merupakan penghargaan yang dipersembahkan oleh Danamon untuk individu-individu yang menghasilkan usaha luar biasa dan berkesinambungan untuk memberdayakan hidup dirinya maupun lingkungannya melalui solusi kewirausahaan.

Kondisi yang melatarbelakangi Fajri untuk mendirikan unit usahanya, Zero Waste Indonesia (ZWI), adalah karena keprihatinan Fajri terhadap lingkungan sekitar yang tercemar oleh sampah. Menurut pandangannya, sampah memiliki nilai ekonomis bila dikelola dengan baik. Sampah tidak seharusnya hanya dibiarkan diproses sebagai barang yang tidak berharga. Oleh sebab itu, Fajri pun mengumpulkan teman-temannya untuk memulai bisnis daur ulang sampah di Depok pada tahun 2013 lalu. Ia bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa Teknik Lingkungan, kala itu memulai untuk bersih-bersih dan mengumpulkan sampah di Depok dengan membuat bank sampah. Bank sampah ZWI yang dibuat di area rumah kontrakan tersebut mengumpulkan sampah dari masyarakat di sekitar wilayah Kampus Universitas Indonesia, kampus dimana mereka kuliah.

Setelah usaha yang Fajri dan kawan-kawannya rintis di awal perjuangan membebaskan lingkungan tempat mereka tinggal dari sampah tersebut, mereka pun berhasil memenangi Enterpreneurship Challenge yang diadakan di ITB dan mendapatkan hadiah uang yang cukup besar. Kemudian uang hadiah tersebut pun lantas dimanfaatkan untuk meneruskan perjuangan mereka. Fajri dan kawan-kawan menggunakan uang tersebut untuk menyewa lahan yang akan digunakan untuk mengumpulkan dan mengolah sampah plastik. Kemudian Zero Waste Indonesia pun didirikan oleh Fajri dengan visi membebaskan Indonesia dari sampah.

Zero Waste Indonesia (ZWI) yang dikelola Fajri beserta kawan-kawannya mengajak masyarakat kaum marjinal untuk dilibatkan sebagai pengelola Bank Sampah milik ZWI. Sampah plastik diolah di lahan ZWI dengan cara digiling. Setelah digiling, sampah-sampah plastik tersebut kemudian dikirim ke industri bijih plastik di Depok dan Tangerang. Dengan bantuan dari karyawan-karyawannya, Bank Sampah milik Fajri bisa menghasilkan 200 kg sampah plastik per hari dengan omzet mencapai Rp 30 juta per bulan. Jika kapasitas pengolahan bisa ditingkatkan mencapai 1 ton per hari, maka omzet yang diperkirakan Fajri mencapai Rp 200 juta per bulan.

Fajri dan Karyawan-Karyawan Bank Sampahnya

Berkat upayanya menggandeng kaum marjinal dalam menjalankan wirausaha mulianya ini, lantas pada tahun 2015 Fajri berhasil memenangi juara favorit dalam Danamon Social Enterpreneur Awards. Pada saat memenangi juara tersebut, Fajri telah menjadi dosen baru di Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII). Sehingga, kala itu Fajri masih mengelola ZWI miliknya dengan bolak-balik Yogyakarta (dimana UII berada) dan Depok. Saat ini ZWI pun akhirnya oleh Fajri diserahkan pengelolaan utamanya kepada rekan Fajri di Depok. Walau begitu, Fajri tetap berusaha menjadi penasehat ZWI sampai saat ini. Harapan Fajri, dengan upayanya membangun ZWI, orang lain akan termotivasi dan terinspirasi untuk membangun upaya-upaya serupa di seluruh Indonesia. Karena sebenarnya, memang pada perencanaannya, ZWI ditargetkan dapat direplikasi di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Saat ini, Fajri berupaya untuk meneruskan perjuangannya dengan memulai usaha pengelolaan sampah di Kampus UII. Dimulai dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) dimana Prodi Teknik Lingkungan berada, Fajri berupaya untuk membuat sistem pengelolaan agar jumlah sampah yang timbul dapat direduksi. Targetnya FTSP UII dapat bergerak menuju pencapaian zero waste. Setelah FTSP berhasil mencapai zero waste, kemudian Kampus UII. Sehingga, nantinya civitas akademika Kampus UII akan terbebas dari sampah. Hal itu bukan hanya impian, namun bisa dicapai jika para civitas akademika mau peduli akan pengelolaan sampah. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, untuk tidak meninggalkan sampah selain di tempat sampah.

Fajri dan Kawan-Kawan saat Mengikutkan ZWI pada Kompetisi Tingkat ASEAN.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, jumlah timbulan sampah di Indonesia telah mencapai 175.000 ton/hari atau setara 64 juta ton/tahun. Dengan sumber timbunan paling dominan yaitu rumah tangga (domestik) sebesasr 48% dari total timbunan sampah. Pada tahun 2015, produksi sampah plastik di Indonesia mencapai 4000 ton per hari atau setara dengan 16 pesawat BOEING 737. Sampah plastik merupakan sampah yang membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk diurai. Salah satu solusi populer yang dapat dilakukan oleh masyarakat yaitu dengan menerapkan konsep 3R (Reduce,Reuse,Recycle) pada pengelolaan sampah plastik. Namun jika tidak disertai oleh pengelolaan yang baik, solusi penanganan sampah ini tidak akan ada artinya karena akan sulit berlanjut.

Beragam inovasi pengelolaan sampah telah diterapkan sebagai upaya untuk mengurangi timbulan sampah yang jumlahnya terus meningkat secara berlipat-lipat di Indonesia. Salah satu upaya tersebut dilakukan oleh dua dosen Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia, Hijrah Purnama Putra (32) dan Fajri Mulya Iresha (24) dengan membuat suatu wirausaha pengelolaan sampah. Tak disangka-sangka, wirausaha bank sampah yang mereka rintis berbuah prestasi yang membanggakan. Hijrah menjuarai kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2015 yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri pada kategori usaha sosial dengan wirausahanya yang bernama “Butik Daur Ulang”. Sementara Fajri berhasil mendapatkan penghargaan sebagai finalis terfavorit dari 5 finalis di Danamon Social Entrepreneur Awards 2015 dengan wirausaha yang bernama “Zero Waste Indonesia”.

Berikut ini tautan menuju artikel masing-masing dari dua dosen Teknik Lingkungan yang berprestasi dalam usaha daur ulang sampah:

Hijrah menjuarai WMM 2015 Fajri sebagai Juara Favorit DSEA 2015